Madurazone.co, Sumenep – pihak perusahaan minyak dan gas (migas) di Sumenep, Madura, Jawa Timur memastikan corparate social responsibility (CSR) sudah disalurkan ke masyarakat. Namun, malah banyak warga yang tidak tahu tentang dan sosial perusahaan.
Salah satunya di KEI, Sapeken sebagian warga malah mengaku tidak tahu soal CSR. “Saat ini kami tidak tahu dimana program CSR yang diberikan perusahaan migas kepada warga. Kami tidak bisa melihat pembangunan fisik, seperti jalan di Sapeken, khususnya di Desa kami Tanjung Keaok,” kata Wahyudi, warga Tanjung Keaok.
Memang, beberapa tahun lalu ada CSR yang diberikan kepada guru swasta dalam bentuk honor. Namun, kabarnya saat ini sudah tidak ada. “Dulu saya pernah dengar, tapi entahlah sekaranf. CSR dalam bentuk apa juga kami tidak tahu menahu,” ungkapnya.
Kalaupun ada, sambung dia, berarti hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Sebab, warga banyak yang tidak tahu dengan CSR. “Lalau siapa yang menikmati CSR Sapeken ini. Warga malah tidak tahu, apalagi sudah eklpoitasi migas ke Sapeken sudah lama,” ucapnya.
Dari sisi kesejahteraan masyarakat, tampaknya PT tidak perlu banyak pada Santos. Sebab, masyarakat Sapeken malah tidak sejahtera. Masih banyak warga terdampak yang malah pergi ke luar daerah untuk mengais rezeki. Meraka datang ke Sumatera, Bali, dan Kalimantan dan lainnya.
“Hingga 2013 saja, sudah lebih dari 500 orang merantau ke luar untuk menambah rezeki. Kalau sudah dua tahun sudah lebih 1000 orang. Kalau tidak percaya ayo disdukcapil turun ke lapangan. Dengan banyaknya perantau, indikator masyarakat belum sejahtera,” ujar aktifis kepulauan.
Sementara CSR santos itu memamg sudah ada. Namun, bantuan itu tidak merata, melainkan hanya sebagian orang. “Tidak semuanya terlibat. Hanya orang tertentu saja dan terbatas. Mungkin yang punya akses ke perusahaan. Seharusnya, masyarakat bisa menikmati,” ucapnya.
Bahkan, terang dia, itu hanya dijadikan kepentingan oknum tertentu. Bahkan, meski kepala desa diberitahu, BPD tidak diberitahu “Kami minta CSR dilakukam secara terbuka kepada masyarakat, supaya masyarakat bisa menikmati semuanya. Sehingga, tidak semua orang bisa menikmati,” ungkapnya.
Informasi dari warga 8 desa di Kecamatan Giligenting mendapatkan jatah CSR itu. Versi warga, CSR PT Santos untuk tahun 2014, masing-masing mendapatkan Rp 250 juta. Sementara untuk tahun ini 2015, masing-masing desa mendapatkan dana Rp 205 juta. Itu sesuai dengan data ESDM, dimana tahun ini memang menurun mencapai Rp 1,7 miliyar dari sebelumnya Rp 1,9 miliyar. Itu diperuntukkan untuk fisik 50 persen dan non fisik 50 persen.
Untuk fisik itu diperuntukkan untuk pengaspalan jalan, pengerasan di sejumlah desa. Bahkan, CSR Santos itu digunakan untuk RKB (ruang kelas baru) sekolah swasta. “Kalau masyarakat Giligenting merasakan dampak dari keberadaan perusahaan migas di desa kami,” kata Amil Wasit, warga Desa Jate Giligenting.
Dia mengungkapkan, untuk fisik itu sudah dirasakan oleh masyarakat. Apalagi, jalan di desa juga diaspal oleh CSR. Untuk non fisik, seperti pemberdayaan, penyuluhan seminar. Pemberdayaan itu berupa bantuan kebutuhan masyarakat. Yakni, Jaring, perahu nelayan. “Biasanya itu dilakukan pengajuan dalam bentuk proposal dari kelompok masyarakat,” ucap mantan pendamping Santos ini. (yt)