Madurazone.co, Pamekasan – Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (GEMPUR) melakukan audensi ke kantor Dispenduk capil Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Rabu (4/5/2016). Mereka mempertanyakan dugaan pungutan liar (pungli) pembuatan e-KTP.
Sayangnya, kedatangan mereka malah tidak disambut simpatik. Bahkan Kepala Dispenduk capil malah terkesan tidak ramah dan marah. “Etika Kepala Dinas memang terkesan tidak baik. Itu sudah terlihat sejak dari luar ruangan,” kata Syauqi komandan aksi.
Menurutnya, Kepala Dinas memang terkesan kasar, keras, dan sangar. Bahkan, pihaknya sempat mendengar bahasa yang tidak layak dilontarkan sebagai kepala dinad. “Kepala disduk capil bilang, jangan main-main dengan saya!”, dan itu terbukti bahwa mereka seakan melecehkan dan mengecam kami.”, ungkapnya.
Dia mengungkapkan, dengan sikap arogansi itu menjadikan pihaknya tidak menyampaikan aspirasi. “Padahal, kedatangan kami dengan niat baik. Yaitu untuk meminta dispenduk capik untuk mengusut dan menindak tegas oknum kecamatan yang yang terindikasi melakukan pungli,” ucapnya.
“Aneh kok kepala dinas seperti preman dan bahkan saya dan rombongan dianggap penjahat. Saat di ruangan, kepala dinas dengan nada tinggi menyatakan untuk tidak merekam proses audiensi. Itu kan hak kami, kenapa dilarang. Bagi kami itu sudah melecehkan badan kami,” ujarnya.
Berkenaan dengan aksi audiensi yang tidak diindahkan, kelompok aktifis Gempur menyatakan akan melakukan aksi untuk menyuarakan indikasi pungli tersebut.
“Dikarenakan audiensi kami diperlakukan kasar, kami akan turun jalan untuk menyuarakan indikasi pungli dalam pembuatan e-KTP,” tukasnya. (hsn/yt)