Oleh Nia Kurnia Fauzi
(Ketua GOW Sumenep)
Memberi itu ibarat sebuah sumur. Bila ditimba airnya setiap hari, ia takkan pernah kering. Secara logika, kalau air di dalam sumur itu terus-menerus ditimba tentu suatu saat pasti akan berkurang, demikian sebaliknya bila air itu tidak ditimba seharusnya ketinggian air itu semakin banyak. Tetapi itu tak berlaku bagi sumur.
Kalau kita coba munculkan pertanyaan, tentu aneh kan? Inilah hukum alam, dalam semesta terdapat misteri. Filosofi dalam sumur itu menandakan bahwa hidup bertujuan untuk selalu memberi.
Nah, kalau kita korelasikan dengan kehidupan kita, sejatinya, juga serupa dengan sumur, sebab kita adalah bagian dari alam semesta. Sampai dalam konsep keberagamaan kita ada istilah hablum minannas
Maka dari itu, tujuan alam semesta ini adalah untuk memberi, demikian juga kehadiran kita di muka bumi ini, tak lain adalah untuk memberi manfaat. Tak sedikit dari kita kadang terjebak oleh egoisme pribadi. Orang sering berpikir bahwa kalau dia memberi, apa yang dia miliki akan menjadi berkuang.
Namun kalau kita mau belajar dari filosofi sumur di atas, semakin banyak dia memberi, akan semakin banyak air yang mengalir. Jadi tidak perlu ragu lagi untuk memberi, karena apa yang diberikan akan kembali kepada kita. Ingat, rejeki itu bukan kita yang mengatur, tetapi si maha pemberi.
Membicang lebih jauh memberi, tidak seharusnya dalam bentuk uang atau materi saja; kita bisa memberi apa saja yang kita miliki. Menolong atau membantu orang lain sebetulnya juga merupakan tindakan yang memberi. Tak perlu ragu karena kita tidak punya uang, berikan sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang kita miliki. Sebagai contoh, Anda memiliki kemampuan dan keterampilan bahasa Inggris dan menulis misalnya, maka ajarkan keterampilan ini kepada orang lain yang membutuhkan. Dengan demikian, kita sudah memberikan apa yang telah kita miliki.
Hanya satu hal yang perlu diperhatikan, janganlah memberi karena terpaksa, janganlah memberi karena ingin dipuji orang lain, janganlah memberi untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang yang kaya dan janganlah memberi hanya karena kebiasaan. Kalau itu kita lakukan, sebetulnya pemberian kita tidaklah ikhlas mengharapkan pamrih.
Bulan ramadan seharusnya tumbuh-tumbuh sikap mental memberi. Sebab bulan yang penuh berkah ini adalah waktu yang tepat untuk merevolusi mental. Sehingga pasca bulan ramadan, kita tidak selalu ragu untuk memberi. Kewajiban berzakat itu sejatinya bukan soal perintah agama, tetapi zakat mengajarkan kepada kita agar bersedia menyisihkan harta kita kepada orang yang berhak menerima. Semoga kita menjadi orang-orang yang beramal dan ikhlas memberi. Wallahu A’lam