Madurazone.co, Sumenep – Wisata Pantai Lombang, di Kecamatan Batang-batang Sumenep, Madura, Jawa Tumur dicanangkan sebagai lokasi wisata budaya. Itu dilakukan sebagai upaya mengangkat nilai-nilai luhur budaya lokal yang perlahan mulai tergerus.
Rencana itu didengungkan setelah 10 orang pemuda dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Lombang melakukan studi banding ke Universitas Brawijaya (UB), Malang. Mereka diterima Muwafiq, wakil Dekan III Kemahasiswaan UB. Kegiatan berlangsung cukup alot dan tetap akademik.
Mereka melakukan diskusi sekitar pengelolaan wisata. Utamanya, hasil penelitian UB beberapa waktu yang menyatakan hilangnya nilai luhur budaya lokal di sekitar wisata, meski belum fatal. Misalnya, berkaitan dengan sikap ramah. Bahkan, hal itu bisa dinilai menghambat perkembangan wisata. Termasuk juga melakukan studi lapangan ke wisata yang dinilai sukses dikelola swasta, yakni Semuan Kerto, Topeng Malangan, dan Pujon Kidul.
Sesepuh Pokdarwis Pantai Lombang H. Masdawi menjelaskan, dari diskusi akademik dan juga studi banding lapangan, terungkap jika perlunya menggarap wisata Lombang sebagai Wisata Budaya. Ini dinilai cukup penting untuk mempertahankan budaya luhur setempat.
“Budaya komunikasi misalnya, antara yang tua dengan yang muda dan sebaliknya. Termasuk juga dengan orang luar. Ini perlu dipertahankan sebagai perilaku sikap ramah budaya lokal. Bagian dari kearifan lokal, ” ucapnya.
Pria yang juga menjabat sebagai anggota komisi II DPRD Sumenep ini menuturkan, budaya di sekitar lokasi juga harus terus dipertahankan agar tidak punah. Misalnya, budaya Topeng, dan ada Rumah Taneyan Lanjang serta Kasur Pasir. “Bahkan, di sini (Lombang, Red) juga ada masjid tertua, dan lebih tua dari pada Masjid Agung Sumenep. Perlu juga diekplore, ” tuturnya.
Semua itu, sambung dia, bisa terlaksana apabila pengelolaan wisata Pantai Lombang diserahkan kepada swasta. Atau bahkan, bisa dikelola oleh Pokdarwis. “Wisata budaya itu bisa terlaksana jika dikelola swasta bukan pemerintah, ” ungkapnya dengan serius.
Sebab, menurut Masdawi, selama ini pemerintah dinilai tidak serius dalam mengelola wisata, sehingga stagnan. Maka, harus dicari jalan tengah dengan diserahkan kepada swasta. “Pokdarwis juga siap mengelola ini. Mereka semua sudah terlatih, ” tukasnya. (nz/yt)