Nilai Tak Mampu “Tekan” Harga Tembakau, Sidak Terkesan Formalitas?

  • Whatsapp

Madurazone.co, Sumenep – Merosotnya harga tembakau di Sumenep, Madura, Jawa Timur terus mendapatkan sorotan. Sebab, pemkab setempat dinilai tidak mampu untuk menekan harga “si daun emas”. Sehingga, menyebabkan petani merugi, tidak mencukupi modal yang dikeluarkan.

Memang, pemkab melalui Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) sudah rutin turun ke lapangan (sidak) ke petani dan juga ke gudang atau pabrikan. Termasuk, tim lain dari pemkab. Namun, hasilnya tampaknya tak nampak bagi petani. Sebab, harga terus merosot.

Muat Lebih

Sehingga, legislator menilai sidak yang dilakukan terkesan formalitas. Indikasinya, sidak, termasuk komunikasi dengan pabrikan tidak membuakan hasil. Petani malah menjerit, di mana sampai ada harga Rp 20 ribu perkilogram, bahkan ada yang sampai di bawah harga tersebut.

“Seharusnya sidak yang dilakukan memberikan efek kepada petani. Harga harusnya naik, bukan pasrah kepada gudang,” kata Angota DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma.

Seharusnya, sambung dia, langkah yang diambil setelah sidak dan bertemu pabrikan, membawa angin segar kepada petani. Setidaknya harga sama dengan tahun sebelumnya. “Setidaknya harga sama dengan tahun sebelumnya. Petani balik modal jika harga kayak tahun kemarin,” tuturnya.

Hal yang sama diungkapkan aktifis LSM GAKI (Gugus Anti Korupsi Indonesia) Farid Azziyadi. Instansi terkait seharusnya mendobrak pabrikan agar bisa membeli tembakau petani dengan harga layak. Jangan hanya sekedar melihat saat datang ke pabrikan. “Harus punya political will untuk menekan pabrikan bisa membeli harga tembakau secara layak,” tuturnya.

Bayangkan, sambung dia, dengan harga yang saat ini berlaku di masyarakat, maka menjadi miris. Sebab, dipastikan tidak bisa kembali modal, apalagi masih pinjam. “Sangat kami sesalkan. Kasihan petani yang hanya jadi korban. Harga yang dipatok saat ini tidak mencukupi biaya yang dikeluarkan,” ucapnya.

Farid juga mengungkapkan, pihak pemkab harus berani mengurai benang merah yang menyebabkan harga hancur. Termasuk bisnis rente hingga bandrol. “Pemkab harus menekan pabrikan bukan kompromi. Dan, harus bisa berpihak kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dispertahortbun Sumenep Arif Firmato enggan memberikan tanggapan terkait masalah ini. “Yang jelas kami sudah berusaha, nanti ketemu di darat saja,” katanya melalui sambungan telepon sekitar pukul 07.51.

Hanya saja, dalam keterangan sebelumnya pihaknya mengklaim sudah bekerja mengawal kepentingan petani tembakau. Bahkan, ke pabrikan juga dilakukan. Bahkan, dia juga mendatangi petani tembakau di Kecamatan Lenteng, Ganding dan lainnya.

“Kami sudah bekerja, tidak diam. Dan, kami serius menangani masalah tembakau. Tidak main-main,” ungkapnya.

Terkait harga?, Kadis muda ini mengungkapkan, soal harga tembakau disesuaikan dengan kualitas. Kalau untuk pabrik harga yang dipatok masih sama tidak ada penurunan. Kalau dibawah itu pekerjaan bandol. “Untuk tembakau sawah sejak awal kami sudah menghimbau untuk tidak tanam tembakau,” ucapnya. (nz/yt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.